- Artikel
- Hits: 62
Saat Anak Muda Merasa “Ada yang Tidak Beres”: Mengapa Tidur, Stigma, dan Bantuan Profesional Penting
Banyak anak muda usia 15–25 tahun terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi di dalam sebenarnya sedang capek, kosong, overthinking, mudah marah, atau merasa hidupnya seperti tidak terkendali. Perasaan seperti ini bukan hal langka. Secara global, sekitar 1 dari 7 remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan mental. Untuk konteks Indonesia pada kelompok remaja yang lebih muda, laporan Indonesia – National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan 34,9% remaja usia 10–17 tahun memiliki masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Namun, hanya 2,6% remaja yang punya masalah kesehatan mental tercatat menggunakan layanan dukungan atau konseling dalam 12 bulan terakhir (WHO, 2025; Center for Reproductive Health et al., 2022).

Artinya, masalahnya sering bukan karena anak muda “kurang kuat”, tetapi karena beban emosi, tekanan pergaulan, perubahan hidup, tuntutan akademik, dan kondisi psikologis yang belum tertangani. WHO juga menegaskan bahwa masa remaja adalah periode yang sangat rentan karena perubahan fisik, emosional, dan sosial, termasuk tekanan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan teman sebaya (WHO, 2025).
Tidur malam yang berantakan bukan masalah kecil
Data memang tidak selalu menunjukkan kenaikan yang lurus di semua negara. Tetapi beberapa survei nasional dan studi longitudinal memperlihatkan dua hal yang cukup jelas: masalah tidur pada remaja dan dewasa muda itu sangat tinggi, dan pada sebagian kelompok memang memburuk dibanding tahun-tahun sebelumnya (CDC, 2024; King et al., 2023).
Dalam data nasional siswa SMA di Amerika Serikat, hanya 23% yang mendapat tidur minimal 8 jam pada malam sekolah di tahun 2023. Dalam periode 2013–2023, proporsi ini turun pada siswa perempuan dari 29% menjadi 22%, dan pada siswa laki-laki dari 35% menjadi 25% (CDC, 2024). Ini bukan gambaran seluruh dunia, tetapi cukup kuat untuk menunjukkan bahwa tidur cukup sudah menjadi tantangan nyata pada remaja (CDC, 2024).
Pada mahasiswa baru di Kanada, proporsi yang masuk kategori probable insomnia—artinya gejala insomnia cukup kuat menurut alat skrining penelitian—naik dari 18% pada musim gugur 2018 menjadi 30% pada 2020, lalu masih 28% pada 2021. Studi yang sama juga menunjukkan bahwa masalah tidur ini berkaitan dengan gangguan konsentrasi, produktivitas, energi, mood, dan relasi sehari-hari (King et al., 2023).
Kenapa tidur berpengaruh besar pada kesehatan mental?
Tidur dan kesehatan mental punya hubungan dua arah. Meta-analisis yang merangkum 63 studi longitudinal pada remaja menunjukkan bahwa tidur yang lebih baik berkaitan dengan gejala emosional dan perilaku yang lebih rendah serta kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Sebaliknya, masalah kesehatan mental juga bisa memperburuk tidur (Bacaro et al., 2024).
Pada dewasa muda usia 18–35 tahun di Norwegia, insomnia berhubungan dengan risiko yang lebih tinggi satu tahun kemudian untuk mengalami episode depresi mayor sekitar 3,5 kali dan gangguan kecemasan menyeluruh sekitar 2,8 kali. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa durasi tidur yang terlalu pendek maupun terlalu panjang sama-sama berkaitan dengan peningkatan risiko masalah mental berikutnya (Hysing et al., 2025).
Secara praktis, tidur yang buruk membuat anak muda lebih gampang ngantuk di siang hari, sulit fokus, lebih mudah tersinggung, mood menurun, prestasi belajar menurun, dan perilaku berisiko meningkat. Jadi ketika seseorang merasa dirinya makin tidak berdaya, gampang terseret tekanan sosial, atau sulit membuat keputusan sehat, tidur sering kali menjadi bagian penting dari masalah itu, bukan sekadar urusan “jam tidur berantakan” biasa (Chawla et al., 2024).
Stigma membuat bantuan datang terlambat
Masalah lain yang besar adalah stigma. Banyak anak muda takut dianggap “lemah”, “lebay”, “kurang iman”, atau bahkan “gila” kalau bicara soal kesehatan mental. Ada juga yang merasa harus bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Padahal, justru pola pikir seperti ini yang sering membuat pertolongan datang terlambat. WHO menyebut stigma memengaruhi kesiapan remaja untuk mencari bantuan. Studi pada remaja dan dewasa muda di Jerman juga mencatat bahwa sekitar 70–80% anak muda dengan masalah mental tidak mencari bantuan profesional. Hambatan yang sering muncul meliputi stigma, sulit akses, faktor keluarga, keinginan untuk mandiri sendiri, dan rendahnya literasi kesehatan mental (WHO, 2025; Baldofski et al., 2024).
Kalau melihat data Indonesia tadi, jurang itu terasa sangat nyata: masalah kesehatan mental pada remaja cukup tinggi, tetapi pemakaian layanan dukungan atau konseling masih sangat rendah. Jadi, membuka diri pada konseling seharusnya tidak dianggap sebagai langkah terakhir saat semuanya sudah runtuh, melainkan sebagai langkah sehat untuk menjaga fungsi hidup sehari-hari tetap berjalan (Center for Reproductive Health et al., 2022; NIMH, 2024).
Kapan anak muda sebaiknya mulai terbuka pada konseling?
Jawabannya: lebih cepat dari yang sering dibayangkan. Tidak perlu menunggu sampai keadaan “parah sekali”. Beberapa tanda berikut sudah cukup kuat untuk mulai bicara dengan tenaga profesional.
- Perasaan sedih, cemas, kosong, putus asa, atau mudah marah sudah bertahan lebih dari dua minggu, atau berulang terus selama berminggu-minggu dan mulai mengganggu sekolah, kuliah, kerja, rumah, atau hubungan dengan orang lain (NIMH, 2025; NIMH, 2024).
- Tidur mulai kacau terus-menerus: susah tidur, sering terbangun, mimpi buruk, tidur terlalu sedikit, tidur terlalu banyak, atau ngantuk berat di siang hari. Ini bukan tanda yang boleh diremehkan karena tidur buruk bisa memperparah fungsi emosi, fokus, dan kualitas hidup (NIMH, 2024; Chawla et al., 2024).
- Fungsi harian mulai turun: sulit fokus, sulit membuat keputusan sederhana, tugas-tugas terasa menumpuk, dan aktivitas yang dulu bisa dikerjakan sekarang terasa berat sekali (NIMH, 2025).
- Mulai menarik diri dari orang lain, kehilangan minat pada hal yang dulu disukai, merasa energi sangat rendah, atau lebih sering ingin sendirian dan menjauh dari keluarga maupun teman (NIMH, 2024).
- Mulai memakai pelarian yang tidak sehat untuk menenangkan diri, misalnya alkohol, zat tertentu, perilaku berisiko, atau melukai diri sendiri. Ini tanda bahwa masalah sudah butuh penanganan yang lebih serius (NIMH, 2024).
- Muncul tanda bahaya yang mendesak, seperti pikiran bunuh diri, dorongan menyakiti diri, serangan panik yang berat, mendengar suara yang orang lain tidak dengar, merasa pikiran dikendalikan, atau periode energi sangat tinggi dengan kebutuhan tidur yang jauh berkurang. Pada situasi seperti ini, bantuan profesional tidak sebaiknya ditunda (NIMH, 2024; American Psychiatric Association, 2023).
Harus mulai dari siapa: konselor, psikolog, atau psikiater?
Konselor atau psikolog bisa menjadi langkah awal yang sangat baik saat seseorang merasa bingung, kewalahan, cemas, sulit mengelola emosi, punya konflik relasi, stres akademik atau kerja, atau pola tidur dan pikiran yang mulai mengganggu hidup. Banyak profesional ini membantu lewat konseling atau psikoterapi untuk mengubah pola pikir, memperkuat coping, dan memulihkan fungsi harian (NIMH, 2024).
Psikiater penting ketika gejalanya berat, ada risiko keselamatan, muncul halusinasi, pikiran bunuh diri, rasa hidup tidak terkendali, atau ketika dibutuhkan penilaian medis dan kemungkinan obat. Psikiater adalah dokter yang menilai aspek mental sekaligus fisik dari masalah psikologis, dan dapat memberikan psikoterapi maupun pengobatan bila perlu (American Psychiatric Association, 2023).
Kadang seseorang juga perlu evaluasi kesehatan umum lebih dulu, karena perubahan mood, konsentrasi, atau energi bisa berkaitan dengan kondisi fisik tertentu. Dan kalau sudah menjalani terapi dalam waktu yang terasa cukup tetapi belum membaik, itu bukan berarti gagal. Justru sebaiknya dibicarakan lagi dengan terapis dan, bila perlu, dipertimbangkan pendekatan atau profesional lain yang lebih sesuai (NIMH, 2024).
Catatan darurat: kalau ada pikiran bunuh diri, dorongan menyakiti diri, halusinasi, atau merasa tidak aman dengan diri sendiri, segera cari bantuan darurat melalui orang dewasa tepercaya, fasilitas kesehatan terdekat, IGD, atau layanan krisis setempat. Kondisi seperti ini tidak perlu ditunggu “sampai besok” (NIMH, 2024; NIMH, 2025).
Penutup
Mencari bantuan profesional bukan tanda lemah. Justru itu tanda bahwa seseorang masih peduli pada dirinya, masa depannya, dan cita-citanya. Semakin dini masalah dikenali, biasanya semakin besar peluang untuk pulih, kembali berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari, dan menjalani sekolah, kuliah, kerja, serta relasi dengan lebih sehat. Anak muda tidak harus menunggu rusak total untuk mulai terbuka pada dunia konseling. Tidur yang lebih sehat, ruang bicara yang aman, dan bantuan profesional yang tepat bisa menjadi titik balik yang sangat penting (NIMH, 2024; WHO, 2025).
Daftar Referensi
- American Psychiatric Association. (2023, January). What is psychiatry?
- Bacaro, V., Miletic, K., & Crocetti, E. (2024). A meta-analysis of longitudinal studies on the interplay between sleep, mental health, and positive well-being in adolescents. International Journal of Clinical and Health Psychology, 24(1), 100424.
- Baldofski, S., Scheider, J., Kohls, E., Klemm, S.-L., Koenig, J., Bauer, S., Moessner, M., Kaess, M., Eschenbeck, H., Lehner, L., Becker, K., Krämer, J., Diestelkamp, S., Thomasius, R., Rummel-Kluge, C., & the ProHEAD Consortium. (2024). Intentions and barriers to help-seeking in adolescents and young adults differing in depression severity: Cross-sectional results from a school-based mental health project. Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health, 18, 84.
- Center for Reproductive Health, University of Queensland, & Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health. (2022). Indonesia – National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) report. Center for Reproductive Health.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Youth Risk Behavior Survey Data Summary & Trends Report for Dietary, Physical Activity, and Sleep Behaviors: 2013–2023. U.S. Department of Health and Human Services.
- Chawla, J., Lovato, N., Wong, M., Best, J., Chaudry, R., Kevat, A., & Vandeleur, M. (2024). Optimising sleep in adolescents: The challenges. Australian Journal of General Practice, 53(6), 379–386.
- Hysing, M., Harvey, A. G., Knudsen, A. K. S., Skogen, J. C., Reneflot, A., & Sivertsen, B. (2025). Mind at rest, mind at risk: A prospective population-based study of sleep and subsequent mental disorders. Sleep Medicine: X, 9, 100138.
- King, N., Pickett, W., Keown-Stoneman, C. D. G., Miller, C. B., Li, M., & Duffy, A. (2023). Changes in sleep and the prevalence of probable insomnia in undergraduate university students over the course of the COVID-19 pandemic: Findings from the U-Flourish cohort study. BJPsych Open, 9(6), e210.
- National Institute of Mental Health. (2024). Child and adolescent mental health.
- National Institute of Mental Health. (2024). Psychotherapies.
- National Institute of Mental Health. (2025). My mental health: Do I need help?
- World Health Organization. (2025). Mental health of adolescents.
