Persoalan Gender pada Perempuan dan Laki-Laki: Mitos, Tekanan Sosial, dan Perubahan Zaman

Kalau mendengar kalimat seperti “perempuan itu memang lebih cocok mengurus rumah” atau “laki-laki harus selalu kuat,” banyak orang masih menganggapnya biasa. Padahal, kalimat-kalimat seperti itu bukan sekadar pendapat ringan, melainkan bagian dari cara masyarakat membentuk peran gender. Persoalan gender muncul ketika perempuan dan laki-laki tidak lagi dilihat sebagai individu yang bebas berkembang, tetapi sebagai sosok yang “sudah seharusnya” mengikuti peran tertentu. Padahal, gender sendiri adalah peran dan atribut sosial yang dibentuk oleh masyarakat, bukan sesuatu yang sepenuhnya ditentukan oleh biologis, dan karena dibentuk secara sosial, ia juga bisa berubah seiring waktu dan konteks sosial yang berubah (Kemen PPPA, 2017; MenEngage Alliance & UN Women, 2014).

Masalahnya, peran gender itu sering dibungkus sebagai “mitos” yang terdengar wajar. Perempuan dianggap harus lembut, penyayang, penurut, dan rela berkorban. Laki-laki dianggap harus tegas, tahan banting, tidak emosional, dan selalu siap memimpin. Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB menjelaskan bahwa stereotip gender adalah pandangan umum tentang sifat atau peran yang dianggap harus dimiliki perempuan dan laki-laki. Stereotip ini menjadi berbahaya ketika membatasi kemampuan seseorang untuk mengembangkan potensi, mengejar karier, atau membuat pilihan hidupnya sendiri. Bahkan stereotip yang tampak “positif,” seperti anggapan bahwa perempuan lebih pengasih, tetap bisa berujung pada ketidakadilan jika dipakai untuk menyerahkan seluruh beban pengasuhan hanya kepada perempuan (OHCHR, 2014).

Bagi perempuan, tekanan sosial ini sering terasa sangat nyata. Dalam banyak masyarakat, perempuan masih lebih lekat dengan peran pengasuhan, pekerjaan domestik, dan tanggung jawab menjaga keharmonisan keluarga. Kemen PPPA mencatat bahwa tanggung jawab perawatan anak hampir selalu diserahkan pada perempuan, sementara peran yang diasosiasikan dengan kekuatan atau otoritas lebih sering dilekatkan pada laki-laki. Di ranah yang lebih luas, ILO menegaskan bahwa kerja perawatan tak berbayar masih menjadi penghalang utama partisipasi perempuan di pasar kerja, dan pembagian kerja perawatan yang lebih setara berkaitan dengan tingkat partisipasi kerja perempuan yang lebih tinggi. Jadi, tekanan terhadap perempuan bukan hanya soal citra, tetapi juga memengaruhi waktu, energi, kesempatan kerja, dan ruang mereka untuk berkembang (Kemen PPPA, 2017; ILO, 2018).

Yang sering luput dibicarakan, laki-laki juga menghadapi tekanan gender yang tidak kecil. Mereka didorong untuk selalu mandiri, kuat, mampu mengendalikan diri, dan tidak menunjukkan kerentanan. Laporan WHO Regional Office for Europe menunjukkan bahwa norma maskulinitas yang kaku dapat menghambat laki-laki untuk mencari bantuan kesehatan mental; hambatannya antara lain dorongan untuk selalu mengandalkan diri sendiri, kesulitan mengekspresikan emosi, dan tuntutan untuk selalu tampak terkendali. MenEngage Alliance dan UN Women juga menekankan bahwa ekspektasi maskulinitas yang kaku membentuk keputusan dan perilaku laki-laki, dan sering kali membebani mereka sekaligus merugikan perempuan di sekitarnya. Jadi, ketika laki-laki dipaksa untuk selalu “tahan banting,” yang dikorbankan bukan hanya kesehatan mental mereka, tetapi juga kualitas relasi dan cara mereka memahami diri sendiri (WHO Regional Office for Europe, 2020; MenEngage Alliance & UN Women, 2014).

Karena itu, persoalan gender sebetulnya bukan isu perempuan melawan laki-laki. Ini adalah persoalan tentang bagaimana norma sosial yang sempit membatasi keduanya dengan cara yang berbeda. UNICEF menegaskan bahwa proses sosialisasi gender dimulai sejak sangat dini. Anak-anak belajar dari rumah, sekolah, media, permainan, dan interaksi sehari-hari tentang apa yang dianggap pantas bagi anak perempuan dan apa yang dianggap pantas bagi anak laki-laki. Bias itu kemudian membentuk identitas, aspirasi, dan harapan mereka terhadap masa depan. Itulah sebabnya banyak anak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus lebih menjaga diri, lebih menahan diri, atau tidak terlalu ambisius, sementara anak laki-laki tumbuh dengan tekanan untuk tidak terlihat lemah dan tidak boleh gagal (UNICEF, 2022).

Di sinilah mitos-mitos gender menjadi sulit dipatahkan: karena ia ditanamkan sejak kecil dan terus diperkuat di banyak tempat. Di sekolah, anak perempuan bisa lebih sering dipuji karena kalem dan rapi, sedangkan anak laki-laki dianggap wajar jika aktif dan keras. Di rumah, anak perempuan bisa lebih cepat dibebani pekerjaan domestik, sementara anak laki-laki lebih sering diberi kelonggaran. UNICEF juga menyoroti bahwa bias dan stereotip gender kerap direproduksi dalam interaksi guru dengan murid, kurikulum, permainan, dan materi belajar. Ketika hal ini terus diulang, masyarakat lalu menganggapnya sebagai “kodrat,” padahal sebenarnya itu hasil pembiasaan sosial yang diwariskan terus-menerus (UNICEF, 2022).

Namun, perubahan zaman juga membuka peluang untuk memperbaiki keadaan. Semakin banyak pembahasan hari ini yang melihat bahwa pengasuhan bukan tugas ibu semata, dan mencari nafkah bukan beban ayah semata. Kemen PPPA menegaskan bahwa pengasuhan adalah tanggung jawab bersama ayah dan ibu, dan stereotip dalam pengasuhan perlu dihilangkan, misalnya dengan mengajarkan anak laki-laki dan perempuan berbagi tanggung jawab pekerjaan rumah tanpa dibedakan berdasarkan jenis kelamin. ILO juga menunjukkan bahwa kebijakan yang mengakui, mengurangi, dan mendistribusikan ulang kerja perawatan dapat mendorong pembagian peran yang lebih egaliter antara perempuan dan laki-laki. Artinya, perubahan tidak cukup berhenti pada slogan; ia perlu masuk ke rumah, sekolah, tempat kerja, dan kebijakan publik (Kemen PPPA, 2025; ILO, 2018).

Perubahan zaman juga menuntut cara pandang yang lebih dewasa tentang perempuan dan laki-laki. Perempuan tidak harus dibatasi pada peran lembut dan mengalah. Laki-laki juga tidak harus dibebani standar keberanian dan ketegaran yang tidak manusiawi. MenEngage Alliance dan UN Women menyebut bahwa kesetaraan gender tidak hanya memberi manfaat etis dan sosial yang lebih luas, tetapi juga memberi laki-laki pilihan hidup yang lebih sehat dan relasi yang lebih baik dengan perempuan dan anak-anak dalam hidup mereka. Jadi, membongkar mitos gender bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan membebaskan orang dari tekanan sosial yang sempit agar mereka bisa tumbuh lebih utuh (MenEngage Alliance & UN Women, 2014; OHCHR, 2014).

Pada akhirnya, persoalan gender pada perempuan dan laki-laki adalah persoalan tentang ruang hidup: siapa yang diberi kebebasan, siapa yang dibatasi, dan siapa yang terlalu lama dipaksa memainkan peran tertentu. Selama perempuan masih dibebani standar pengorbanan yang berlebihan, dan laki-laki masih dibebani tuntutan untuk selalu kuat, berarti kita masih hidup dalam tekanan sosial yang belum sepenuhnya adil. Karena itu, perubahan zaman seharusnya tidak hanya terlihat pada teknologi dan gaya hidup, tetapi juga pada keberanian kita untuk meninjau ulang mitos-mitos lama yang membatasi perempuan maupun laki-laki dalam menjalani hidupnya (Kemen PPPA, 2017; WHO Regional Office for Europe, 2020).

Daftar Pustaka

International Labour Organization. 2018. Care Work and Care Jobs for the Future of Decent Work.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 2017. Mencapai Kesetaraan Gender dan Memberdayakan Kaum Perempuan.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 2025. Menteri PPPA: Pola Asuh yang Baik dalam Keluarga dapat Mencegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak.

MenEngage Alliance & UN Women. 2014. Men, Masculinities, and Changing Power: A Discussion Paper on Engaging Men in Gender Equality From Beijing 1995 to 2015.

Office of the High Commissioner for Human Rights. 2014. Gender stereotypes and stereotyping and women’s rights.

UNICEF. 2022. Tackling Gender Inequality From the Early Years: Strategies for Building a Gender-Transformative Pre-Primary Education System.

WHO Regional Office for Europe. 2020. Mental Health, Men and Culture: How Do Sociocultural Constructions of Masculinities Relate to Men’s Mental Health Help-Seeking Behaviour in the WHO European Region?

Artikel Menarik Lainnya

Dalam dunia kerja baik di kantoran, pabrik atau perusahaan jasa, dll menjadi karyawan yang disukai...

Dalam percakapan sehari-hari, insecurity pada laki-laki sering disederhanakan menjadi “kurang...

Jika harus memberikan sebuah materi presentasi kepada audien yang belum dikenal, bagi sebagian...

Asthma adalah suatu kondisi yang mana saluran udara tubuh menyempit dan membengkak serta dapat...

 

INSAN-Q
Ruko Bonakarta Blok A No. 30
Masigit, Jombang,
Kota Cilegon,
Banten 42415

 

|   |   |   | |

 

INSAN-Q Home
Komp. BBS 3 Blok A4 No. 14
RT17/RW09, Ciwaduk,
Kota Cilegon,
Banten 42415